Tuesday, March 24, 2015

Mewarnai Sabun dengan pewarna natural - part 2


Pewarna natural lain yang biasa digunakan pada sabun adalah clays. Artikel tentang clays dan benefitnya masing masing bisa dibaca di sini

Clay dituang pada adonan sabun pada saat light trace. Foto mengenai hasil masing masing clay pada sabun bisa dibaca di blog milik Amanda Gail di LovinSoap



Kiri ke kanan: Pink Brazilian Clay, Yellow brazilian Clay, Purple Brazilian Clay, Dark Red Brazilian Clay, Natural Brazilian Clay (Credit: www.brambleberry.com)

Brazilian Clay Sampler




Sunday, March 15, 2015

Mewarnai sabun dengan pewarna natural - Part 1


Dengan pewarna alami Anda tidak akan mendapatkan warna yang cerah dan eyecathing seperti jika menggunakan pewarna artifisial. Sebaliknya, Anda akan mendapatkan warna yang lembut secara alami. Sementara beberapa bahan natural hanya memberikan warna, beberapa pewarna alami memberikan Anda lebih dari sekedar warna, seperti exfoliating, antioksidan atau manfaat lainnya. Berikut adalah daftar dari beberapa hal yang saya telah digunakan dan warna yang mereka hasilkan, berikut manfaat tambahannya ;).
Rata rata yang digunakan dalam bentuk kering atau bubuk.


  • Alfalfa: Hijau Sedang
  • Alkanet Root: Ungu sampai biru
  • Annatto (infused in oil): kunning sampai oranye
  • Beet Root Powder: Kunging labu, mengandung antioksidan.
  • Black Walnut Hull: Bintik hitam, baik untuk exfoliating
  • Calendula: Kuning, memiliki manfaat menyembuhkan
  • Carrot (powder/oil): oranye kekuningan, mengandung beta carotene
  • Chamomile: Beige sampai yellow, mengandung anti inflamasi
  • Chamomile Essential Oil, German:  Hijau muda, anti inflamasi, menenangkan kulit
  • Chlorophyl (powder): Hijau, memiliki manfaat penghilang bau (deodorizing)
  • Cinnamon: Coklat, bisa mengiritasi beberapa jenis kulit
  • Cloves: Coklat, bisa mengiritasi beberapa jenis kulit
  • Cocoa Powder: Coklat
  • Coffee: Coklat, exfoliating, antioksidan dan deodorizing
  • Cornmeal: Kuning, exfoliating
  • Blue cornmeal: Biru keunguan sampai hijau, exfoliating
  • Green tea powder: Hijau kecoklatan, antioksidan
  • Henna: Hijau zaitun sampai coklat kehijauan
  • Indigo powder: biru tua, hati hati! Mudah bernoda
  • Kelp: hijau, mengandung yodium dan iodine
  • Madder root (Infuse di oil jika tidak menginginkan ada bintik merah): merah sampai ungu 
  • Moroccan Red Clay: Merah bata, menarik kotoran pada kulit
  • Paprika (Infused di oil jika tidak menginginkan ada bintik): Oranye
  • Poppy seed: Bintik hitam, exfoliating
  • Pumice: Abu abu, exfoliating
  • Rose pink clay: Pink kecoklatan, menarik kotoran pada kulit
  • Rose hips (dried): Burgundy sampai coklat, tinggi kandungan vitamin C
  • Safflower petals: Kuning sampai oranye
  • Saffron: Kuning
  • Sage: Hijau sampai coklat
  • Sandalwood powder (tergantung jenis yang digunakan): Merah akan menjadi merah kecoklatanm kuning akan menjadi kuning krem
  • Spearmint: hijau sampai coklat
  • Spinach (kering): Hijau muda
  • Spirulina: Hijau sampai hijau kebiruan
  • Susu: coklat, beige, sedikit oranye
  • Turmeric: kuning
  • Wheat grass juice: Hijau

Buah dan sayuran segar sebagian besar tidak dapat digunakan untuk mewarnai sama sekali (hampir semuanya akan berubah menjadi coklat selama proses saponifikasi). 
Kadang kadang bahkan yang bentuk kering tidak bisa bertahan warnanya. Mint akan berubah menjadi hijau terang, kemudian setelah beberapa minggu akan berubah menjadi cokelat. Kelopak mawar biasanya berubah menjadi cokelat dalam hitungan hari. Lavender akan tetap ungu selama beberapa hari, kemudian berubah menjadi hijau, akhirnya berakhir di coklat.

             color soap naturally series

Thursday, February 19, 2015

Mari membahas tentang pewarna

Oxides, Mica, ultramarines - apa bedanya?

Bagian terbaik dalam menggunakan mika di CP adalah bahwa mica tidak menggumpal sama sekali. Warna-warnanya halus dan indah.. Bagian yang kurang menyenangkan  dari pemakaian mica di CP adalah bahwa mereka butuh tingkat pemakaian yang lebih banyak dibandingkan dengan dari pewarna pigment maupun FD&C. Hal kurang menyenangkan lainnya adalah beberapa mica tidak stabil pada sabun CP karena lapisan pewarna FD&C nya, sehingga perlu dilakukan tes untuk mengetahui stabil atau tidaknya mica tersebut pada sabun CP.


1. Pigments
Oksides dan ultramarines termasuk dalam kategori ini. Pigmen, seperti kebanyakan pewarna di luar sana, bukan termasuk kategori alami, melainkan "Nature Indentical".

Pigmen diproduksi di laboratorium sejak tahun 70-an. Ternyata, pigmen (oksida dan ultramarines) digunakan untuk ditambang namun FDA melangkah masuk dan menuntut beberapa syarat kemurnian, sehingga sejak saat itu, pewarna ini telah diproduksi di laboratorium - struktur molekul yang sama hanya berbeda dari cara pengolahan.

Beberapa Iron Oksides masih diekstraksi secara alami; Namun, Iron Oxides di alam (tanah) sering mengandung logam beracun seperti timbal, arsen, merkuri, antimon dan selenium (ketika mereka berada di alam). Ini adalah mengapa FDA melangkah untuk mengatur pewarna kosmetik sehingga tingkat logam beracun yang hadir dalam konsentrasi rendah  dianggap "aman." Bahkan, hanya iron oxides sintetis yang disetujui untuk digunakan dalam kosmetik di negara ini.  (Johnson, S.T. & Wordell, C.J. “Homeopathic and herbal medicine: Considerations for formulary evaluation,” Formulary, 32, 1167, Nov. 1997. )

Hal yang baik tentang enggunaan pigmen dalam sabun adalah bahwa mereka stabil. Umumnya, mereka tidak akan berubah atau mengubah warna dalam Cold Processed atau Melt dan Pour. Mereka juga cost efektif; Dengan harga $ 3- $ 6 per ounce (sekitar 28gr), pewarna ini termasuk murah. Kelemahan menggunakan pigmen adalah bahwa mereka cenderung menggumpal sehingga mereka membutuhkan tambahan TLC untuk membuat mereka tidak menggumpal.

2. FD&C Colorants
Ada banyak jenis pewarna FD & C, tetapi pada dasarnya mereka diproduksi di laboratorium, tidak alami tetapi umumnya sangat mudah digunakan dan memberikan rentang warna yang lebar, lebih dari yang bisa Anda bayangkan. Ada tersebar luas ketidakpercayaan, dan bahkan ketakutan, tentang pewarna FD & C. Hal ini kemungkinan besar karena FDA telah menarik warna di masa lalu karena masalah keamanan. Contoh yang paling terkenal mungkin Red No 2, dilarang pada tahun 1976 atas kemungkinan link ke kanker. Sebenarnya,  pewarna FD & C terdapat dalam sebagian besar makanan olahan yang kita makan (dari keju untuk kentang goreng untuk permen) dan kekhawatiran tentang penggunaan pewarna ini dalam sabun mungkin tidak berdasar. Selain itu, jumlah kecil dari jenis pewarna dalam sabun (yang tidak tinggal pada kulit Anda), adalah paling tidak berarti dibandingkan dengan jumlah besar pewarna FD & C dalam makanan (dan vitamin dll ...).

Bagian yang menyenangkan dari menggunakan pewarna FD & C adalah bahwa mereka,  cukup murah untuk digunakan. Mereka sangat terkonsentrasi. Mereka juga tercampur dengan merata. Mereka biasanya stay clear di MP soap. Bagian menyebalkan adalah ketidak stabilan mereka dalam lingkungan basa (alias - sabun proses dingin). Jarang sekali ada pewarna FD & C yang benar-benar bisa stabil. Rata rata pewarna FD&C akan 'bleeding' dan 'fading'.

3. Micas
Mica termasuk dalam kategori pewarna FD & C karena mica merupakan produk alami, yang ditambang dan kemudian dilapisi dengan pewarna FD & C, atau pigmen, atau kombinasi keduanya untuk mendapatkan warna tersebut. Warna ganda  inilah yang menjadikan mica berkilau dan bercahaya (shimmery). Mica merupakan pewarna yang Anda lihat di lipstik Anda, eye shadow dan blush on. Mica terlihat jelas pada produk yang transparan, seperti sabun melt and pour, karena shimmer membutuhkan cahaya untuk merefleksikan dan membiaskan cahaya dengan baik.



4. Pewarna Sabun Natural/Alami
Tidak ada definisi legal untuk pewarna alami. FDA mengklasifikasikan pewarna sebagai yang memerlukan sertifikasi dan yang tidak memerlukan sertifikasi. Beberapa pewarna alami yang populer untuk digunakan adalah:

Kuning - Annatto, Saffron, kunyit, yellow clay
Hijau - Klorofil
Coklat - Cocoa Powder, teh 
Red - Paprika powder

Ungu - Alkanet Root (untuk CP)
dst dst...



Bagian yang baik tentang pewarna alami adalah sudut pemasaran; masyarakat umum percaya bahwa alami adalah lebih baik sehingga Anda dapat memasarkan ini dengan baik. Namun, sulit untuk mencapai warna yang Anda inginkan jika menggunakan pewarna alami, dan kadang-kadang, Anda tidak bisa mendapatkan warna yang halus (tergantung pada ramuan yang digunakan). Masalah lain adalah bahwa beberapa pewarna yang mahal untuk digunakan.

credit: makeyoursoap.com


Monday, February 2, 2015

Kursus Sabun Mahal? atau: Ngapain kursus?

Ini pernyataan atau pertanyaan yang sering muncul. 
Banyak email maupun whatsapp yang masuk menanyakan kursus lalu menyatakan overbudget, mahal, dan lain lain. Ada juga yang bilang, kalo via googling atau youtube banyak tutorialnya, ngapain kursus? Ada lagi: di tempat lain lebih murah. Untuk kursus yang lebih murah, tanyakan dulu apa saja materi yang diajarkan, kelas private 1 on 1? ada konsultasi setelah kursus?  

Nah, ini perlu ada murid yang berbesar hati untuk bersedia menuliskan testimoni dan memberikan tambahan pada komentar, kalau dari saya doang alasannya, nanti terasa seperti promosi, hehehehe....

Beberapa alasan kenapa kursus antara lain:

  1. Di dunia maya, Anda melihat prosesnya, ada resepnya, dan  Anda MEMANG bisa membuat sabun sesuai dengan resep yang SESUAI dan SAMA PERSIS dengan yang anda lihat di youtube maupun internet. Tapi.... apakah Anda bisa menciptakan resep Anda sendiri? Apakah resep tersebut sudah Anda cek tentang soap quality nya? (Hardness, bubbly, conditioning, creamy, etc etc).
  2. Apakah Anda tahu jenis jenis oil tertentu yang mudah rancid? Pemakaian oil yang mudah rancid ada maksimumnya agar sabun Anda tidak mudah DOS (Dreaded Orange Spot).
  3. Apakah Anda diberitahu tentang tips dan trick membuat sabun untuk iklim panas dan humidity di Indonesia? Beberapa resep harus dimodifikasi untuk iklim Indonesia jika tidak ingin sabun Anda cepat rusak.
  4. Apakah Anda diberitahu tentang cara memperpanjang shelf life oil yang cepat rancid?
  5. Apakah Anda diberitahu tentang superfatting, water discount, dan istilah istilah dunia persabunan lain?
  6. Apakah Anda tahu tentang how to handle bad behaving FO?
  7. Tahu bagaimana membuat sabun lebih keras? Membuat sabun lebih banyak busa?
Itu baru beberapa alasan yang bisa saya ingat.
Jika Anda memiliki pengalaman bertahun tahun dalam satu bidang tertentu, lalu Anda berbagi ilmu tersebut (yang Anda peroleh dari hasil pengalaman, praktek, riset selama tahun tahun tersebut), apakah Anda mau langsung memberikan rahasia Anda begitu saja? Kalau ada yang mau, saya mau mengajukan diri untuk belajar :D

Sebagai perbandingan, ini ada beberapa kursus soapmaking dari luar (sebagian ada yang online), lalu bandingkanlah dengan fee kursus sabun di Indonesia. Perlu diingat juga, kelas private/public, praktek/tidak (online course anda harus praktek sendiri).  Modul apa saja yang diajarkan? apakah hot process sudah termasuk di dalamnya atau tidak?

Little Soap Company, GBP 285 (one on one)
Soap School, start from GBP 99
Bathalchemylab, USD 89
Joan Morais (Online) USD 39.99
coe-onlinetrainingcourses, GBP 127
udemy.com, $90 for beginner soapmaking

Rata rata kursus di luar negri jauh lebih mahal dibanding di Indonesia. Materi saya mengacu pada materi cold process soap making di US, bahkan sudah saya rangkum teorinya sampai ke level advance. Anda tinggal prakteknya saja.

Ada yang mau menambahkan?






Monday, January 26, 2015

Oils for Soapmaking

It's an honor to write in this blog.  Dear Sylvia memberi saya kesempatan yang tak akan saya lewatkan. Thank you. Cukup bingung mau menulis apa, akhirnya saya memilih topik ini karena sampai saat ini pun kadang topik ini masih merupakan dilema buat saya.

Sebagai soapmaker, tinggal di Indonesia sebagai penghasil palm oil terbesar di dunia tentu sangat menguntungkan.  Harganya yg murah dan mampu menghasilkan sabun berkualitas baik merupakan daya tarik yang kuat.  Secara pribadi saya menyukai penggunaan palm oil di sabun handmade.  Palm oil dan turunannya juga digunakan di hampir seluruh industri kosmetik di dunia.  Satu hal yang mengganjal adalah isu perusakan lingkungan akibat deforestasi massive dari hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatera. Isu yang menurut beberapa teman yang bekerja di sektor-sektor ini, bukan merupakan isu lagi.

Lalu saya mencoba beralih ke tallow (lemak sapi) sebagai bahan alternatif penggunaan sabun. I was so excited because the result was great: creamy and hard soap.  Tapi sayangnya ketersediaan bahan baku ini belum stabil dan untuk memproses sendiri lemak sapi menjadi tallow sangat memakan waktu dan tenaga.

Next soya bean oil.  I love this oil tapi pemakaian di soapmaking tidak bisa terlalu banyak karena pemakaian yang terlalu banyak menghasilkan sabun yang lembek dan rentan terhadap DOS.  Satu hal lagi soya bean oil, canola oil dan corn oil berasal dari GMO.  The health issue dari produk 2 yang berbahan baku GMO is still debatable but I would love to find non GMO soya bean and canola oil :D.

What about Rice Bran Oil? Sifatnya yang mirip olive oil menyebabkan saya selalu menyimpannya di rumah.  But rice bran oil is still not olive oil.  Olive oil bisa dipakai sampai 100%, rice bran tidak.  Maksud saya bisa saja pakai 100% rice bran oil tapi hasilnya jauh berbeda dengan 100% olive oil (The Legendary Castile Soap).

My most favorites of course Coconut Oil and Olive Oil. Some people will add castor oil as their favorite trio ;).  Kalau sabun dengan 100% olive oil (Castile Soap) menghasilkan sabun yang sangat lembut, sabun dengan minimum 70% olive oil (Bastile Soap) will also produce great soap with lovely bubble.

Bagaimana dengan exotic oils seperti avocado oil, macadamia oil, jojoba oil, hemp oil dan lain2?  I think those oils will produce luxurious soap but....I haven't tried these oils in soapmaking.  Ga tega :D. I will use them, promise, in near future....




Friday, January 23, 2015

Beberapa murid lulusan Soapville

Pada postingan saya sebelumnya, saya bercerita sedikit tentang diri saya dan sejarahnya saya mulai berkecimpung di dunia ini.

Kali ini, saya akan bercerita tentang murid (yang mengijinkan saya menulis tentang mereka disini). Jangan memandang mereka bisa sukses secara instan ya... saya tahu persis bagaimana awal awalnya mereka kutak kutik resep, riset tentang bahan baku, dan berapa banyak sabun yang 'gagal' yang pernah mereka buat. Gagal dalam arti kata design nya tidak seperti yang diinginkan dan dibayangkan :p


Sevencactus
Owner seven cactus bernama Sarah, Saya lupa kapan tepatnya dia belajar sama saya. 
Sarah bikin sabun sabun berbentuk cupcake, cake, bar soap, liquid soap, body butter dan body lotion. Yap, semua berawal dari kursus cold process soap. Sarah 
Bagi yang pengen beli melt and pour soap base, bisa menghubungi Sarah karena dia juga menjual Melt and Pour soap base. 

Beberapa produk Seven Cactus

     

    

Ini social media milik Sevencactus, silahkan mingle, di like dan follow yah :)

Facebook Seven Cactus
Instagram Seven Cactus
Website Seven Cactus


Moporie aka The Soap Corner
Owner Moporie namanya Erie. Awalnya Erie mengambil kursus sabun tujuannya untuk membuat suvenir ulang tahun pertama buat anaknya. Ga disangka sangka, Erie ketagihan bikin sabun sampai stoknya kebanyakan, sudah dibagi bagi ke keluarga dan teman pun masih kebanyakan. (ya gimana ga kebanyakan kalo bikin melulu ya Rie?, hehehe...).
Suatu hari Erie bbm saya dan curhat tentang stok sabunnya yang banyak itu, bingung kapan ngabisinnya. Saya bilang: Jual aja....
Berhubung erie ini memang sudah ada bese sebagai online seller yang menjual produk kosmetik impor, maka mulailah Erie masukin produk sabun home made nya ke web dan mulai mempromosikan produk produknya. Hasilnya? responnya bagus banget. Erie sudah ikut pameran di Grand Indonesia tahun lalu, dan tahun 2015 ini akan terus ikut pameran. Semangat ya Rieeeee :D


      

    



Social Media Moporie:
Facebook Page Moporie
Instagram The Soap Corner
Website Moporie


Soapaddict
Soap Addict ini milik Angela. Angela termasuk yang produksinya sedikit, bukan karena dia tidak mau bikin sih, tapi karena Angela kerja kantoran, dan mengajar setelah pulang kantor, maka hanya bisa bikin sabun malam hari menjelang tidur atau pada saat weekend. Angela, di tengah kesibukannya bekerja dan mengajar, masih menyempatkan diri untuk membuat sabun yang menurutnya sudah menjadi hobby yang bikin ketergantungan, hehehehe.... Angela termasuk murid yang sering datang ke rumah baik untuk chit chat maupun konsultasi ^__^


   





Social Media Soap Addict:
Facebook Soap Addict
Instagram Soap Addict
Website Soap Addict

Beberapa murid lainnya: 
vimala_co
olenka_id 
genevsoapery 
By.Le by Gulaco Main web nya di: Gulaco
bareskin_id
D'anggraini

Ada lagi 'cucu' murid, ini bukan murid langsung, melainkan muridnya murid (bingung yah??) hehehe....  Mari mingle ke instagramnya Brilsavonnerie ^__^

Siapa lagi yang mau nyusul? :)

Gimana kalau saya minta murid saya untuk menyumbangkan satu artikel untuk blog saya sebagai penulis tamu? 

Saya juga nunggu hasil sabun dari pasukan murid yang jagoan bikin kue *melirik jeung Niken dan jeung Grace* untuk sedikit bercerita tentang gimana rasanya bikin sabun dibandingkan dengan bikin kue/pastry, testimoninya, dan lain2. 

Untuk jeung Woro, sahabat dan owner dari Ritz n Luna Handmade Soap, permintaan khusus dari saya, sumbang tulisan dooonggggg ;)

Monday, January 19, 2015

Cerita tentang SoapVille, produk dan kursusnya

Tahun 2011, sewaktu saya mulai menerima kursus membuat sabun dengan metode cold process, bisa dibilang saya tidak punya competitor. Saat itu saya sudah membuat sabun selama bertahun tahun (sabun pertama saya tahun 2003) untuk pemakaian sendiri, dan hanya menjual sabun berdasarkan pesanan dalam kuantiti tertentu. Seiring berjalannya waktu, mulai banyak permintaan untuk menjual sabun secara retail, dan itu yang membuat saya memutuskan untuk membuka account Facebook dan membuat Facebook page untuk brand saya, SoapVille. 
Brand ini juga dibuat tanpa mikir, pokoknya asal ada brand aja deh pikir saya...
Logo saya dibuat oleh seorang teman lama (dia seorang graphic designer yang hasil karyanya sudah banyak beredar di pasar), itupun sempat terjadi perdebatan karena saya tidak punya konsep sama sekali. Dia sampai bingung karena saya minta dibuatkan logo tanpa ada ide maupun konsep sama sekali. Dia bingung, saya lebih bingung lagi, hehehehe....
Ujung-ujungnya, saya cuma bilang, saya suka warna hijau, produk saya support green living, dan dibuat di rumah, nah, jadilah logo saya seperti ini, not bad lah untuk ukuran yang ga punya konsep sama sekali :p

Thank's a lot to Arry Lesmana Tan untuk logonya. Mudah-mudahan ga keberatan kalau saya minta edit edit nanti ;) 




2013, saya mulai kewalahan. Awalnya saya hanya posting daftar sabun yg sudah fully cured di path pribadi saya, hasilnya? sekali posting lebih dari 90% sabun ludes semua. Sampai teman saya ada yang menyebut sabun saya sebagai 'sabun senggol bacok' karena harus rebutan dan adu cepat untuk mendapatkannya. Saya menyimpan screenshot path saya untuk mengenang masa itu, norak juga ya? wkwkwk....


Ok, selesai dulu deh ngedongengnya. Sekarang saya bahas tentang kenapa saya membuka kursus sabun. 
Saya banyak menerima pesanan custom soap, ada yang untuk SPA, ada yang rutin pesan untuk pemakaian sekeluarga, ada dokter yang pesan sabun untuk keluarga dan pasiennya (salah satu dokter di RS Dharmais rutin mesen sabun Goatmilk Oat and Honey-Unfragrance), dll.

Dengan kondisi saya adalah ibu rumah tangga yang tidak memakai pembantu (sebelumnya saya bekerja, baru berhenti di akhir tahun 2010), saya mulai merasa kelabakan. Akhirnya saya mulai berpikir untuk mentransfer ilmu tentang persabunan dengan menerima kursus sabun. Hand out juga saya buat sendiri. Di tahun itu juga saya mulai membuka kursus membuat sabun. Booming boomingnya mulai kelihatan belakangan ini. Banyak home made soap bermunculan. Kursusnya juga. Ada yang dari jebolan saya, ada yg dari jebolan orang lain. Anda bisa menilai sendiri produk dari jebolan saya dengan hasil sabun dari jebolan kursus lain. Yang pasti, murid2 saya tidak menjual sabun di harga 30 ribuan kebawah. Memang ga bisa jual harga murah karena bahan bakunya yang sebagian masih import, dan dibuat dengan cara dan hitungan yang benar. Yang sudah beli sabun murid saya dan membandingkannya dengan sabun home made lain, pasti akan merasakan perbedaanya. Kami mengutamakan kualitas, bukan mengejar penjualan dgn banting harga murah. Saya sudah tidak menerima pesanan custom soap berbentuk fancy-fancy pada murid2 saya (cupcake soap, cake soap, soap with embeds), jadi kalau ada yang nanya tentang sabun berbentuk ini itu, saya akan referensikan murid yang saya tahu mau dan bisa bikin sabun model model tersebut. Saya sudah tidak punya waktu, sudah malas juga, wkwkwkwk....

Saya senang sekaligus bangga melihat beberapa murid yang sukses dari bisnis sabun. Beberapa bahkan sudah ikut bazaar/pameran. Mereka bisa bikin hot process, liquid soap, hanya dari sekali kursus. Practice makes perfect ;)
Murid murid saya merupakan perpanjangan tangan saya untuk mengedukasi orang tentang benefit home made soap. 

Next post, saya akan ceritakan tentang murid murid saya. Saya harus minta ijin dulu untuk menyebutkan mereka sebelum saya mulai bercerita :)





Awal Tahun 2025

Halo semuanya ^__^ Sudah sekian tahun tidak menulis blog, karena alasan kesibukan, dan sering bolak balik keluar kota menemani orangtua saya...