Friday, March 18, 2016

Lotion And Butter - Cheat Sheet

      
                             Whipped Body Butter                                               Solid Lotion Bar


Cheat Sheet? Yap. Saya kasih contekan panduan untuk membuat lotion, cream dan body butter, baik anhydrous maupun emulsified. Anda bisa membuatnya di rumah. 

Yang perlu diingat, emulsifier ada beberapa jenis, masing masing memiliki usage rate sendiri sendiri, jadi tetap harus membaca usage rate masing2 emulsifier. Cheat sheet ini menggunakan emulsifying wax NF.  
Lengket dan tidaknya tergantung pemilihan oil. Untuk emulsified products, jika ingin mengurangi sticky feeling, harus ada penambahan bahan sintetis tertentu. Berhubung maunya natural, saya tidak berikan yang super detailed. Disini saya ingin Anda merasakan bagaimana membuat home made bodycare produk yang bisa Anda pakai sendiri. 

Banyak produk home made yang sudah dijual saat baru sekali produksi. Pembuat dan penjual produk skincare home made jaman sekarang punya tangan midas, pintar sekali. Dalam waktu kurang dari setahun sudah membuat dan menjual banyak sekali varian produk. Kereeennnnnnn..... Pesan dari saya, jangan lupa test stabilitas produk Anda dalam waktu minimal 6 bulan (untuk produk emulsified). Banyak produk yang meleleh dalam pengiriman, berubah bau dalam beberapa minggu, dan lain lain. Ini akan membuat pasar menilai semua produk home made tidak dibuat dengan cara yang baik dan benar. 

Produk anhydrous buat saya tidak terlalu masalah, paling paling meleleh di suhu negara kita.  
Yang jadi masalah adalah produk emulsified. Semua produk emulsified harus ada yang namanya stability test paling tidak selama minimal 6 bulan. Produk yang dibuat disimpan di suhu ruangan selama paling sedikit 6 bulan untuk melihat apakah produk tersebut stabil atau tidak (kadang suka ada yang misah air dan oil nya). Masa tes 6 bulan tersebut muga untuk melihat apakah produk tersebut tahan bakteri, jamur, dan  yeast. Di masa itulah kita bisa melihat perubahan tekstur, warna, bau dan lain lain. Intinya harus stabil dalam minimal 6 bulan. (saya pribadi malah minimal 8 bulan, ga pede aja :p)

Saya hanya memberikan garis besarnya saja pada sheet ini, tutorialnya banyak di internet. selanjutnya Anda harus ber eksperimen sendiri ;)



ANHYDROUS PRODUCTS EMULSIFIED PRODUCTS
Balm Lotion (Face & Body)
80% Liquid Oil 80% Water
20% Wax 4% Humectant
10% Liquid Oil
Whipped Butter 2% Thickener
20% Liquid Oil 4% Emulsifier
80% Solid Oil (Butter)
Cream
70% Water
Solid Lotion Bar 2% Humectant
40% Liquid Oil 15% Liquid Oil
35% Solid Oil (Butter) 5% Solid Oil (Butter)
25% Wax 2% Thickener
6% Emulsifier
Body Butter
60% Water
3% Humectant
12% Liquid Oil
15% Solid Oil (Butter)
3% Thickener
7% Emulsifier

Catatan:
  1. Cheat ini merupakan gambaran umum resep dasar, Anda bisa melakukan percobaan dengan memodifikasinya.
  2. Emulsifier ada banyak macam, masing masing bisa berbeda feel nya di kulit. Baca usage levelnya pada keterangan setiap bahan. 
  3. Preservative WAJIB ditambahkan untuk produk emulsified. Pemakaiannya harus baca usage rate masing masing. Baca dengan detail mengenai persentase, suhu saat ditambahkan, dan lain lain.
  4. Humectant ada banyak jenis. Yang paling umum adalah Glycerin. 
  5. Wax: Umum nya beeswax. Jika anda vegan, beeswax bisa digantikan dengan candelila wax, dengan persentase lebih sedikit dibanding beeswax. 




Wednesday, March 16, 2016

Anhydrous vs Emulsified Products

Berhubung banyak nih yang nanya kenapa produk body butter si A, B, C lumer atau meleleh (padahal yang bikin bukan saya, kok ga nanya ke pembuatnya ya? :p ) saya berikan penjelasan singkat nih...

Sejauh yang saya lihat, kebanyakan produk home made body butter yang ada di pasaran sini merupakan anhydrous product. Produk anhydrous rentan meleleh di suhu negara tropis. Karena itu butuh pengetahuan lebih untuk bisa membuat produk anhydrous yang tahan leleh disini ;)
Saya tidak memproduksi anhydrous produk, karena saya pribadi ga suka, lengketnya itu ga nahan. Tapi ada produk body butter anhydrous lokal yg saya suka, tahan leleh dan tidak begitu lengket ;)

Oke, langsung ke penjelasannya yaaaaa, diusahakan singkat, jelas dan padat. 



Anhydrous products

  • Tidak mengandung air dan wax
  • Berbasis minyak (nabati), butter dan wax
  • Body oil, face oil, massage oil, lotion bar, balm, salve, oil based body butter, whipped body butter, massage bar, oil based scrub termasuk kategori ini.
  • Produk berbasis minyak dibuat tanpa air tidak rentan terhadap kontaminasi mikroba oleh karena itu tidak perlu menambahkan pengawet (dengan catatan produk tersebut tidak kemasukan air)
  • Antioksidan dapat ditambahkan ke produk ini untuk memperpanjang umur simpan mereka. Antioksidan memperlambat proses oksidasi yang menyebabkan produk berbau tengik.
Emulsion Products
  • Mengandung air
  • Merupakan campuran minyak dan air dengan emulsifier untuk mengikat bahan.
  • Cream dan lotion masuk kategori ini
  • Perlu pengawet (WAJIB!) untuk melindungi produk terhadap bakteri dan kontaminasi mikroba
  • Antioksidan juga dapat ditambahkan selain pengawet. 

Cara lain untuk memperpanjang daya simpan produk Anda (disamping menggunakan preservative dan antioksidan)
  • Kemas dalam airless pump dispenser
  • Gunakan distilled water (bukan air keran!)
  • Pastikan Anda mematuhi praktekebersihan yang sangat baik ketika membuat dan menggunakan produk.
  • Jika Anda telah membuat produk anhydrous, pastikan bahwa air tidak masuk produk selama pembuatan atau pemakaian. Jagalah produk untuk tidak kemasukan air (tangan yang basah/lembab saat mengambil produk termasuk disini). 


Satu lagi nih, pertanyaan mengenai preservative natural. Apakah ada natural preservative? jawaban saya: Tidak ada bahan pengawet yang tersedia saat ini untuk produk home made yang 100% alami. Pilihan terbaik (jika punya bahannya) adalah dengan menggunakan pengawet yang diizinkan dalam produk organik bersertifikat. Pengawet yang tersedia untuk produk home made yang diizinkan oleh Ecocert organic products - Ini ada beberapa kelemahan, bisa baca tentang hal tersebut di sini.

Yang menyedihkan, ada beberapa produk home made yang resepnya nyontek abis dari internet. Terilhami ga jadi masalah, tapi kalo 100% dicontek? lupa ya disini negara tropis? 
Buat yang pengen bikin produk butter sendiri, gampang kok, asal tahan ama lengketnya. Next post saya kasi contekan resep aja gimana? Ga perlu les ga pake mikir kok :D




Wednesday, March 9, 2016

Membaca Ingredients list pada produk - PRESERVATIVE



Berhubung banyak perdebatan mengenai pengawet pada produk home made, kali ini saya kasih penjelasan singkat saja ya....

Semua produk  yang menggunakan air (termasuk hydrosol, floral water, aloe vera, susu, semuanya mengandung air) atau yang kemungkinan terkena kontak dengan air (contoh: scrub yang digunakan dengan tangan yang basah), maka pengawet sangat penting (baca: WAJIB) untuk membantu mencegah pertumbuhan mikroba (bakteri, jamur dan ragi/yeast). Pengawet menghentikan pertumbuhan bakteri dengan bertindak pada spora ketika mereka berkecambah dan membunuh sel-sel (biasanya dengan cara merusak membran sel) atau dengan membuat produk tidak memungkinkan bagi bakteri untuk tumbuh. 
Anda tidak bisa mengandalkan penglihatan untuk mengetahui bahwa produk Anda baik-baik saja untuk digunakan - produk mungkin terlihat dan berbau baik-baik saja, tapi ketika kita menjalankan mereka melalui tes mikro, hasilnya pasti akan menyatakan lain. 

Jika Anda membuat sebuah produk dengan banyak zat aktif, tumbuhan dll (yang sangat sulit untuk diawetkan) maka Anda perlu pengawet yang dapat mengatasinya sehingga pilihan Anda akan lebih terbatas. 

Jadi, sebisa mungkin, kurangi komponen yang mungkin memberi nutrisi bagi bakteri dan jamur, khususnya, clay,  susu kambing, lidah buaya, hydrosols, air bunga, ekstrak, asam hialuronat dan umumnya: karbohidrat, protein, asam organik, garam anorganik dan vitamin.

Nah, bagaimana kita 'membaca' preservative pada produk, khususnya produk home made, all natural, paraben free dll yang banyak didengung dengungkan belakangan ini?
Saya tidak akan membahas semua jenis preservative yang ada di pasaran, disini saya hanya bahas yang umum saja dan beberapa preservative khusus.

Preservative bisa dilihat dai INCL (ingredient list) nya, suatu preservative bisa terdiri dari satu atau beberapa kombinasi ingredients untuk membuatnya efektif. Pada produk jadi, kita tidak menuliskan nama preservativenya melainkan keseluruhan ingredient listnya (Incl). Mari kita mulai....


Traditional Preservatives

1. Phenonip (Incl: Phenoxyethanol, Methylparaben, Ethylparaben, Butylparaben, Propylparaben,  Isobutylparaben) Usage rate: 0.5% - 1%
Not paraben free, banyak digunakan pada produk pabrikan di pasaran. Phenonip sangat efektif dan bagus sebagai pengawet tunggal.

2. Germall Plus - Liquid (incl: Propylene Glycol, Diazolidinyl Urea, Iodopropynyl Butylcarbamate). Usage rate: 0.1% - 0.5%
Paraben free preservative, efektif dan mudah digunakan, menjadi favorit bagi produk produk home made. 

3. Germaben II (Incl: Propylene Glycol, Diazolidinyl Urea, Methylparaben, Propylparaben). Usage rate: 0.3 - 1%
Not paraben free, pengawet lain yang sangat efektif - sangat baik untuk mengawetkan produk yang sulit untuk diawetkan misalnya produk dengan banyak ekstrak. 

4. Germaben II - E (Incl: Propylene Glycol, Diazolidinyl Urea, Methylparaben, Propylparaben) 
Sebuah pengawet populer, Germaben II-E dapat digunakan dalam formulasi bermasalah tanpa perlu tambahan co-preservative.

5. Suttocide A (Incl: Sodium Hydroxymethylglycinate). Usage rate: 0.1 - 1%, tergantung pada formulasi. 
Salah satu dari beberapa bahan pengawet yang tahan terhadap pH tinggi. Suttocide adalah pengawet yang baik, tapi mungkin perlu sedikit tambahan dengan pengawet lain untuk mengatasi setiap ragi dan jamur. Suttocide A memiliki sifat anti-bakteri baik, dan kemampuan membunuh fungi, mold dan yeast nya meningkat dengan kuantitas yang digunakan.



More "Natural" Preservative (Notes: beberapa kemungkinan tidak begitu efektif)

1. Optiphen / GFphen PCG (Incl: Phenoxyethanol, Caprylyl Glycol). Usage rate: 0.5% - 1.5%
Paraben dan formaldehyde free preservative. Dapat menyebabkan emulsi menjadi tidak stabil. Baik digunakan dengan chelator dan tambahkan pengawet lain untuk membantu memerangi jamur. 

2. Optiphen plus  (INCI of Phenoxyethanol, Caprylyl Glycol, Sorbic Acid). Usage rate: 0.5% - 1.5%
Paraben dan formaldehyde free preservative. 


Ecocert Approved Preservative (Pada umumnya memiliki short shelf life dan harus dikombinasikan dengan preservative lain)

1. Glyceryl Caprylate/Dermosoft GMCY. Effective terhadap bacteria and fungus tapi lemah terhadap mould. Tidak terdaftar sebagai pengawet, dan dengan demikian tidak memiliki tingkat penggunaan maksimum. Terdaftar sebagai wetting agent atau komponen emolient. Pasangkan dengan pengawet yang efektif mengatasi mould. 

2.  p-Anisic Acid/Dermosoft® 688 eco (INCI is Parfum). Menjaga terhadap mould tapi lemah terhadap bakteri dan jamur. Pasangkan dengan glyceryl caprylate untuk “preservative-free” formula.


Cukup segini saja ya.... saya bisa pingsan kalau membahas satu demi satu semua preservative (yang jenisnya banyaaaakkk sekali). 
Pemakaian preservative memiliki beberapa pembatasan. Suhu, PH, dan bahan lain yang ada dalam formula produk akan mempengaruhi keefektifan maupun stabilitas produk. Ini sebabnya para crafter (seperti saya) banyak memilih germall plus sebagai preservative. 

Mau pakai pengawet yang 100% natural bisa saja, tapi harganya sangat mahal, dengan kurs sekarang mencapai hampir Rp. 210.000.- untuk 17 gramnya - ini belum termasuk ongkos kirim dari US ke Indonesia, usage rate 0.3% - 1%. Incl nya hanya parfum (penasaran apa namanya? :p ). Yang menjadi pertanyaan saya, preservative dengan harga setinggi itu, mau dijual berapa produk yang pakai bahan pengawet ini? Pangsa pasarnya akan jauh lebih terbatas karena masalah harga jual yang tinggi ;)


Saturday, March 5, 2016

How to make herbal infused oils

  


Herbal infused oil (juga dikenal sebagai macerated oil) adalah carrier oil yang telah 'diinfused' (direndam) dengan herbal ataupun bunga. Dengan membiarkan tumbuhan dan bunga terendam dalam minyak untuk jangka waktu tertentu kita dapat mengekstrak banyak manfaat penyembuhan dari tumbuhan tersebut menjadi bentuk yang lebih bermanfaat.

Banyak herbal yang cocok untuk infusing, seperti rosemary, lavender, peppermint, calendula dan comfrey .

Ide dasarnya adalah bahwa tumbuhan direndam dalam carrier oil berkualitas baik seperti minyak almond, minyak bunga matahari, jojoba atau minyak zaitun dan baik didiamkan secara alami selama beberapa minggu, dipanaskan dengan sinar matahari atau dipanaskan di dalam air panas (dalam slow cooker atau di tim) selama beberapa jam. Minyak menyerap banyak sifat-sifat tumbuhan dan bahan tumbuhan yang direndam tersebut. 

Minyak yang telah direndam dengan herbs/bunga tersebut kemudian dapat digunakan untuk membuat formulasi perawatan kulit lain seperti  balm, salep, krim, perawatan rambut, sabun dan lainnya. Ada begitu banyak pilihan campuran yang dapat Anda pilih sendiri sesuai kebutuhan Anda. 

Yang perlu diingat adalah, selalu gunakan dried herbs atau flower, karena kandungan air pada tanaman segar akan merusak oil yang Anda gunakan untuk merendam. Kandungan air pada tumbuhan segar akan membuat carrier oil Anda mengalami oksidasi/rusak. 


3 metode membuat herbal infused oils:

1. Cold Infusion:
Rendam dried herbs/flower ke dalam jar yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan ke dalam carrier oil, lalu simpan selama 6 minggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Setelah 6 minggu, saring dan gunakan minyaknya sebagai bahan baku untuk skincare Anda.

2. Sun Infusion:
Sama dengan cold infusion, hanya saja jar diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari.

3. Heat infusion:
Rendam dried herbs/flower ke dalam jar yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan ke dalam carrier oil, rendam dalam air panas dengan metode double boiler (atau gunakan slow cooker) selama 2-6 jam. 
Metode ini cocok untuk mereka yang kurang sabar menunggu beberapa minggu infusing.



Sunday, November 1, 2015

Liquid Soap - Goat Milk in Liquid Soap

Melanjutkan tulisan saya tentang FAQ liquid soap disini, Kali ini saya akan bahas mengenai liquid soap yang menggunakan water substitution, khususnya semua sabun cair home made yang menggunakan susu. 

Di US, homemade goat milk liquid soap sudah lama beredar. Saya pun sudah lama membuatnya untuk pemakaian pribadi atau untuk pesanan orang (khusus sabun liquid saya tidak  menjual eceran tapi per jerigen 5 liter). Liquid goat milk soap pertama saya dibuat lebih dari 6 tahun yang lalu menggunakan fresh goatmilk. 

Liquid goat milk soap pasti akan berwarna gelap, ini disebabkan karena pada saat proses masak, goat milk akan menjadi gelap dan berbau karamel. 

Semua liquid goatmilk soap (baik yang menggunakan powder maupun fresh goat milk) akan menghasilkan sedimen pada dasarnya ketika sudah fully diluted, seperti pada contoh dibawah ini. Kita tidak menginginkan sedimen seperti ini pada produk yang akan dijual, sedimen ini akan menjadi carrier bagi bakteri, yeast dan fungi untuk tumbuh dan berkembang biak. Jadi, sebelum dituang ke dalam botol, liquid soap ini perlu disaring (saya pakai beberapa lapis kain sebagai saringan) untuk menghilangkan sedimen seperti ini. Saya tidak menuang semua sabun saat menyaringnya, bagian yang mengandung sedimen selalu saya buang.  Ini perbandingannya yang menggunakan powdered goatmilk dan fresh goatmilk

Sedimen pada liquid goatmilk soap menggunakan powdered goat milk


Sedimen pada liquid goatmilk menggunakan fresh goat milk
(sorry for the bad lightning)


Sisa sedimen setelah liquid goatmilk saya saring



Liquid goat milk memiliki aroma alami yang sedikit berbeda dari liquid soap tanpa goat milk (kalau menurut penciuman saya, baunya seperti bau karamel). Itu dikarenakan kandungan gula pada susu kambing tersebut. 

Liquid goat milk soap yang baik tidak akan berubah bau dalam hitungan minggu. saya punya liquid goat milk soap (menggnakan fresh goat milk) yang sudah saya simpan selama 6 bulan tanpa diberi pengawet, tidak mengalami perubahan bau. 

Jika Anda menemukan liquid goat milk soap yang berubah bau dalam hitungan minggu, mungkin liquid goatmilk soap Anda sudah salah buat atau tidak mengikuti aturan aturan dalam membuat sabun liquid menggunakan susu atau bahan lain yang merupakan "nutrisi bakteri". 

Ada beberapa alasan kenapa soapmaker lebih menyukai powdered goatmilk untuk liquid soapnya, antara lain:

1. Powder goatmilk lebih stabil dan lebih tahan lama dibanding fresh goatmilk.
2. Kadar fat pada powder bisa dilihat karena tercantum pada labelnya.
3. Mengurangi kadar 'bacteria nutrition' karena powder goatmilk merupakan produk susu kambing yang sudah diolah lebih lanjut. 


Trus? ga bisa dong menggunakan fresh goatmilk???  
Jawab: Bisa kok, tapi ada beberapa hal yang harus diperhitungkan. Anda harus memperhitungkan fat dalam fresh goatmilk tersebut ke dalam hitungan resep Anda. Ini agak tricky bagi soapers pemula, karena kandungan fat pada susu kambing segar bisa beda beda tergantung bagaimana kambing tersebut dibiakkan. Bisa bisa yang terjadi adalah sabun goatmilk Anda yang menggunakan fresh goatmilk cepat rusak (berubah bau) dalam hitungan kurang dari 3 bulan. Jika ingin liquid soap yang menggunakan fresh goatmilk, carilah soapmaker yang berpengalaman dalam hal ini. Ingat, liquid soapmaking itu adalah level advance dalam dunia soap making. Tidak banyak informasi yang jelas di internet. Tips trik menghandle bahan segar seperti ini tidak dibagikan gratis (sepanjang yang saya lihat ya...). 

Bar soap yang memakai fresh goatmilk lebih tahan dibanding liquid soap menggunakan fresh goatmilk. 
Untuk skincare, justru tidak disarankan memakai fresh goatmilk. Bayangkan susu segar yang ditaruh di suhu ruangan, berapa hari sudah menjadi busuk?


Tapi, benefitnya beda dong?  
Hm.... yang ini tergantung ya.... kalian mau memakai liquid soap yang pakai susu segar yang dibuat tanpa perhitungan yang baik, ada sedimen di dasar botol lalu berubah bau dalam beberapa minggu karena bakteri, ATAU memakai liquid goat milk yang dibuat dengan powdered goatmilk tapi lebih stabil dan lebih tahan terhadap bakteri?

Mengenai manfaat, saya rasa keduanya hanya beda sedikit. Toh selama proses masak, baik yang menggunakan susu segar maupun susu bubuk sama sama akan melewati proses 'pemanasan'. 



Be smart ;)


Tuesday, October 27, 2015

Liquid Soap - FAQ

Pic source: Etsy

Menanggapi banyaknya pertanyaan mengenai sabun cair - home made, saya buatkan ringkasannya disini yaaa....

Tanya: Sabun cair yang saya beli kok encer ya? 
Jawab: Secara alami, sabun cair home made pasti akan encer, tapi tidak seencer air. Kadar keencerannya tergantung pada beberapa faktor: 
- Resep. 
- Berapa banyak air yang digunakan untuk mendilute pasta liquid soap. Semakin banyak air yang dipakai untuk melarutkan (mendilute) pasta liquid soap, maka sabun akan semakin encer. Jadi jika Anda menemukan sabun cair yang encernya seperti air, bisa dipastikan soapmaker tersebut menggunakan banyak air untuk melarutkan pastanya (ini masalah cost, selain supaya bisa diproduksi lebih banyak, dengan demikian soapmaker tersebut mendapatkan keuntungan lebih ). Banyaknya air yang diigunakan untuk melarutkan pasta liquid soap juga akan membuat busa liquid soap berkurang. 
- Fragrance atau essential oil:  beberapa jenisnya membuat liquid soap menjadi kental.
- Apakah liquid soap tersebut diberi thickener maupun tidak (thickener disini ada yang natural, ada yang synthetic). Berhubung di Indonesia sulit mendapatkan synthetic thickener, rata rata soapmaker disini menggunakan natural thickener untuk liquid soapnya. Natural thickener ini berupa air garam, namun tidak semua resep bisa dikentalkan dengan air garam, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi untuk membuat liquid soap bisa kental dengan air garam, salah satunya adalah tidak melarutkan pasta dengan banyak air.

Tanya: Sabun cair yang baik itu harus bening?
Jawab: Tidak. 
- Beberapa bahan seperti shea butter, cocoa butter akan membuat sabun cair berwarna opaque, ini bisa tergantung berapa banyak yang dipakai. Beberapa oil juga akan membuat sabun cair menjadi opaque atau milky. Palm oil akan membuat sabun cair menjadi milky, tergantung berapa banyak pemakaiannya. Dibawah sekian persen tetap akan bening. 
- Fragrance / essential oil. Beberapa fragrance maupun essential oil akan membuat liquid soap yang tadinya crystal clear akan menjadi keruh. Ada yang akan kembali bening dalam beberapa jam atau hari. Ini juga ada triknya supaya si sabun kembali menjadi bening. Soapmaker yang berpengalaman pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini. Tapi jika Anda tidak keberatan dengan penampilan, seharusnya hal ini tidak menjadi masalah bagi Anda. 

Tanya: Saya beli liquid castile soap paste, tapi setelah dilute kok misah ya? seperti ada dua lapisan.
Jawab: Kemungkinan besar Anda mendapatkan pasta yang belum 'fully done'. Ini berbahaya, karena adonan yang misah setelah diluting menandakan sabun tersebut masih mengandung lye. Hubungi penjualnya dan sampaikan bahwa dia menjual pasta yang belum matang. Liquid soap paste berbentuk seperti soft butter (kurang lebih seperti mentega wijsman, atau lebih keras dari itu).

Tanya: Ada yang bilang, liquid soap itu pakai borax ya?
Jawab: Kalau soapmaker tersebut menggunakan metode yang ada di buku Catherine Failor ini, ada kemungkinan iya. Buku ini terbitan tahun 2000, masih menggunakan metode lama dalam membuat liquid soap. Metode tersebut memperhitungkan excess lye, sehingga butuh neutralizing agent berupa borax, atau pilihan lainnya: boric acid, citric acid. Soapmaker sekarang ini sudah tidak membutuhkan step neutralizing dalam membuat liquid soap. Jika jaman dulu bikin liquid soap butuh waktu belasan jam, soapmaker sekarang sudah bisa membuat liquid soap dalam waktu yang lebih singkat (ada metode terbaru mengenai hal ini). 

Tanya: Liquid soap kok busanya sedikit?
Jawab: Liquid soap alami memang busanya lebih sedikit dibanding liquid soap pabrikan, hal ini juga berlaku untuk sabun batangan homemade. Castile liquid yang berbahan 100% olive oil malah bisa dibilang tidak berbusa (busanya sangat sedikit), tapi sangat lembab bagi kulit. Jika ingin lebih banyak busa, saya sarankan pakai foaming net. 
Busa pada sabun pabrikan berasal dari surfcactant / synthetic detergent, synthetic detergent ini banyak jenisnya, SLS merupakan bahan surfactant yang paling banyak digunakan ada sabun pabrikan.

Tanya: Sabun home made ga bisa PH Balance?
Jawab: Jika Anda melihat sabun 'home made' yang mengklaim memiliki ph netral 5.5, baik sabun batang maupun cair, pada dasarnya mereka merupakan synthetic detergent. Baca dulu ingredientsnya. Jenis2 surfactant ada banyak, contoh: Cocamidopropyl Betaine, Sodium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfoacetate (SLSA) merupakan sebagian kecil jenis surfactant yang umum dipakai. 
Tidak ada sabun homemade natural yang bisa dibuat dengan ph netral. Titik. Sabun cair adalah produk alkali dan dimaksudkan untuk menjadi sebuah produk basa dengan pH biasanya di kisaran 9 - 10,2. Mencoba untuk menurunkan pH dibawah 9 atau bahkan sekitar 9 akan mengakibatkan sabun Anda tidak stabil. Menurunkan PH sabun Anda akan membuat sabun Anda berubah menjadi campuran air, glycerin, asam lemak, singkatnya: terpisah. Sabun cair yang benar akan berada di kisaran pH 9 - 10.2.


Sementara, ini dulu FAQ yang saya rangkum ya... ini adalah pertanyaan pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Silahkan berikan komen jika ada yang kurang :)


Monday, October 5, 2015

All natural, chemical free product = Good for your skin?

Dari pertanyaan pertanyaan via email maupun chat yang masuk, saya lihat masih banyak nih yang clueless tentang produk produk chemical free bla bla bla itu. Ada seller yang membuat produk natural, homemade skincare yang menyatakan produknya bebas kimia, preservative dllsb dan memberukan statement bahwa inilah yang bagus untuk kulit, non chemical.

Disini saya -sekali lagi- mencoba meng-edukasi Anda sekalian. Saya bukan type orang yang anti chemical, tapi juga bukan orang yang sangat pro dan mendukung penggunaan bahan kimia pada produk produk home made. Saya netral. Bingung? hehehe.... 

Saya mendukung pemakaian chemical yang membuat produk home made menjadi lebih baik. Contoh nyata yang paling sering terjadi adalah preservative. Banyak produk home made yang ga pake preservative padahal produk mereka mengandung air. It's a big NO NO di dunia home made skincare. Water, hydrosol, aloe vera juice/water, semua mengandung air sehingga WAJIB menggunakan preservative.

Siapa disini yang anak kimia? murid saya ada yang lulusan kimia dan bio teknologi. Mereka tahu persis bahwa pemakaian preservative adalah WAJIB bagi produk yang mengandung air atau yang kemungkinan terkena air (contoh: body scrub).
Sebagai contoh, segelas air minum yang ditetesi bakteri tidak akan langsung berubah warna, bau dan rasa seketika itu juga, padahal air tersebut sudah mengandung bakteri, secara kasat mata, tetap bening. Air tersebut baru akan berubah bau, warna dan rasa SETELAH bakteri yang dimasukkan itu menjadi koloni. 

Salah satu produk yang banyak salah produksi adalah body spray. Urusan harus dikocok dulu sebelum digunakan, itu karena tidak pakai emulsifier. Tapi air yang ada di dalam body spray itu HARUS dan WAJIB pakai preservative. Anda mau menyemprotkan air yang mengandung yeast, bakteri atau berbagai bacam nasty things ke kulit Anda? saya sih tidak. Sekali lagi, preservative itu bukan hanya paraben, masih ada banyak pilihan lain. Yang perlu diperhatikan adalah broad spectrum atau tidaknya produk preservative tersebut. 
Seberapa efektif kah preservative yang digunakan?

Saya akan melanjutkan tulisan ini dengan tulisan tentang bagaimana membaca preservative dan bahan lainnya pada ingredient list ;)

Awal Tahun 2025

Halo semuanya ^__^ Sudah sekian tahun tidak menulis blog, karena alasan kesibukan, dan sering bolak balik keluar kota menemani orangtua saya...