Saturday, March 5, 2016

How to make herbal infused oils

  


Herbal infused oil (juga dikenal sebagai macerated oil) adalah carrier oil yang telah 'diinfused' (direndam) dengan herbal ataupun bunga. Dengan membiarkan tumbuhan dan bunga terendam dalam minyak untuk jangka waktu tertentu kita dapat mengekstrak banyak manfaat penyembuhan dari tumbuhan tersebut menjadi bentuk yang lebih bermanfaat.

Banyak herbal yang cocok untuk infusing, seperti rosemary, lavender, peppermint, calendula dan comfrey .

Ide dasarnya adalah bahwa tumbuhan direndam dalam carrier oil berkualitas baik seperti minyak almond, minyak bunga matahari, jojoba atau minyak zaitun dan baik didiamkan secara alami selama beberapa minggu, dipanaskan dengan sinar matahari atau dipanaskan di dalam air panas (dalam slow cooker atau di tim) selama beberapa jam. Minyak menyerap banyak sifat-sifat tumbuhan dan bahan tumbuhan yang direndam tersebut. 

Minyak yang telah direndam dengan herbs/bunga tersebut kemudian dapat digunakan untuk membuat formulasi perawatan kulit lain seperti  balm, salep, krim, perawatan rambut, sabun dan lainnya. Ada begitu banyak pilihan campuran yang dapat Anda pilih sendiri sesuai kebutuhan Anda. 

Yang perlu diingat adalah, selalu gunakan dried herbs atau flower, karena kandungan air pada tanaman segar akan merusak oil yang Anda gunakan untuk merendam. Kandungan air pada tumbuhan segar akan membuat carrier oil Anda mengalami oksidasi/rusak. 


3 metode membuat herbal infused oils:

1. Cold Infusion:
Rendam dried herbs/flower ke dalam jar yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan ke dalam carrier oil, lalu simpan selama 6 minggu di tempat yang tidak terkena sinar matahari. Setelah 6 minggu, saring dan gunakan minyaknya sebagai bahan baku untuk skincare Anda.

2. Sun Infusion:
Sama dengan cold infusion, hanya saja jar diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari.

3. Heat infusion:
Rendam dried herbs/flower ke dalam jar yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan ke dalam carrier oil, rendam dalam air panas dengan metode double boiler (atau gunakan slow cooker) selama 2-6 jam. 
Metode ini cocok untuk mereka yang kurang sabar menunggu beberapa minggu infusing.



Sunday, November 1, 2015

Liquid Soap - Goat Milk in Liquid Soap

Melanjutkan tulisan saya tentang FAQ liquid soap disini, Kali ini saya akan bahas mengenai liquid soap yang menggunakan water substitution, khususnya semua sabun cair home made yang menggunakan susu. 

Di US, homemade goat milk liquid soap sudah lama beredar. Saya pun sudah lama membuatnya untuk pemakaian pribadi atau untuk pesanan orang (khusus sabun liquid saya tidak  menjual eceran tapi per jerigen 5 liter). Liquid goat milk soap pertama saya dibuat lebih dari 6 tahun yang lalu menggunakan fresh goatmilk. 

Liquid goat milk soap pasti akan berwarna gelap, ini disebabkan karena pada saat proses masak, goat milk akan menjadi gelap dan berbau karamel. 

Semua liquid goatmilk soap (baik yang menggunakan powder maupun fresh goat milk) akan menghasilkan sedimen pada dasarnya ketika sudah fully diluted, seperti pada contoh dibawah ini. Kita tidak menginginkan sedimen seperti ini pada produk yang akan dijual, sedimen ini akan menjadi carrier bagi bakteri, yeast dan fungi untuk tumbuh dan berkembang biak. Jadi, sebelum dituang ke dalam botol, liquid soap ini perlu disaring (saya pakai beberapa lapis kain sebagai saringan) untuk menghilangkan sedimen seperti ini. Saya tidak menuang semua sabun saat menyaringnya, bagian yang mengandung sedimen selalu saya buang.  Ini perbandingannya yang menggunakan powdered goatmilk dan fresh goatmilk

Sedimen pada liquid goatmilk soap menggunakan powdered goat milk


Sedimen pada liquid goatmilk menggunakan fresh goat milk
(sorry for the bad lightning)


Sisa sedimen setelah liquid goatmilk saya saring



Liquid goat milk memiliki aroma alami yang sedikit berbeda dari liquid soap tanpa goat milk (kalau menurut penciuman saya, baunya seperti bau karamel). Itu dikarenakan kandungan gula pada susu kambing tersebut. 

Liquid goat milk soap yang baik tidak akan berubah bau dalam hitungan minggu. saya punya liquid goat milk soap (menggnakan fresh goat milk) yang sudah saya simpan selama 6 bulan tanpa diberi pengawet, tidak mengalami perubahan bau. 

Jika Anda menemukan liquid goat milk soap yang berubah bau dalam hitungan minggu, mungkin liquid goatmilk soap Anda sudah salah buat atau tidak mengikuti aturan aturan dalam membuat sabun liquid menggunakan susu atau bahan lain yang merupakan "nutrisi bakteri". 

Ada beberapa alasan kenapa soapmaker lebih menyukai powdered goatmilk untuk liquid soapnya, antara lain:

1. Powder goatmilk lebih stabil dan lebih tahan lama dibanding fresh goatmilk.
2. Kadar fat pada powder bisa dilihat karena tercantum pada labelnya.
3. Mengurangi kadar 'bacteria nutrition' karena powder goatmilk merupakan produk susu kambing yang sudah diolah lebih lanjut. 


Trus? ga bisa dong menggunakan fresh goatmilk???  
Jawab: Bisa kok, tapi ada beberapa hal yang harus diperhitungkan. Anda harus memperhitungkan fat dalam fresh goatmilk tersebut ke dalam hitungan resep Anda. Ini agak tricky bagi soapers pemula, karena kandungan fat pada susu kambing segar bisa beda beda tergantung bagaimana kambing tersebut dibiakkan. Bisa bisa yang terjadi adalah sabun goatmilk Anda yang menggunakan fresh goatmilk cepat rusak (berubah bau) dalam hitungan kurang dari 3 bulan. Jika ingin liquid soap yang menggunakan fresh goatmilk, carilah soapmaker yang berpengalaman dalam hal ini. Ingat, liquid soapmaking itu adalah level advance dalam dunia soap making. Tidak banyak informasi yang jelas di internet. Tips trik menghandle bahan segar seperti ini tidak dibagikan gratis (sepanjang yang saya lihat ya...). 

Bar soap yang memakai fresh goatmilk lebih tahan dibanding liquid soap menggunakan fresh goatmilk. 
Untuk skincare, justru tidak disarankan memakai fresh goatmilk. Bayangkan susu segar yang ditaruh di suhu ruangan, berapa hari sudah menjadi busuk?


Tapi, benefitnya beda dong?  
Hm.... yang ini tergantung ya.... kalian mau memakai liquid soap yang pakai susu segar yang dibuat tanpa perhitungan yang baik, ada sedimen di dasar botol lalu berubah bau dalam beberapa minggu karena bakteri, ATAU memakai liquid goat milk yang dibuat dengan powdered goatmilk tapi lebih stabil dan lebih tahan terhadap bakteri?

Mengenai manfaat, saya rasa keduanya hanya beda sedikit. Toh selama proses masak, baik yang menggunakan susu segar maupun susu bubuk sama sama akan melewati proses 'pemanasan'. 



Be smart ;)


Tuesday, October 27, 2015

Liquid Soap - FAQ

Pic source: Etsy

Menanggapi banyaknya pertanyaan mengenai sabun cair - home made, saya buatkan ringkasannya disini yaaa....

Tanya: Sabun cair yang saya beli kok encer ya? 
Jawab: Secara alami, sabun cair home made pasti akan encer, tapi tidak seencer air. Kadar keencerannya tergantung pada beberapa faktor: 
- Resep. 
- Berapa banyak air yang digunakan untuk mendilute pasta liquid soap. Semakin banyak air yang dipakai untuk melarutkan (mendilute) pasta liquid soap, maka sabun akan semakin encer. Jadi jika Anda menemukan sabun cair yang encernya seperti air, bisa dipastikan soapmaker tersebut menggunakan banyak air untuk melarutkan pastanya (ini masalah cost, selain supaya bisa diproduksi lebih banyak, dengan demikian soapmaker tersebut mendapatkan keuntungan lebih ). Banyaknya air yang diigunakan untuk melarutkan pasta liquid soap juga akan membuat busa liquid soap berkurang. 
- Fragrance atau essential oil:  beberapa jenisnya membuat liquid soap menjadi kental.
- Apakah liquid soap tersebut diberi thickener maupun tidak (thickener disini ada yang natural, ada yang synthetic). Berhubung di Indonesia sulit mendapatkan synthetic thickener, rata rata soapmaker disini menggunakan natural thickener untuk liquid soapnya. Natural thickener ini berupa air garam, namun tidak semua resep bisa dikentalkan dengan air garam, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi untuk membuat liquid soap bisa kental dengan air garam, salah satunya adalah tidak melarutkan pasta dengan banyak air.

Tanya: Sabun cair yang baik itu harus bening?
Jawab: Tidak. 
- Beberapa bahan seperti shea butter, cocoa butter akan membuat sabun cair berwarna opaque, ini bisa tergantung berapa banyak yang dipakai. Beberapa oil juga akan membuat sabun cair menjadi opaque atau milky. Palm oil akan membuat sabun cair menjadi milky, tergantung berapa banyak pemakaiannya. Dibawah sekian persen tetap akan bening. 
- Fragrance / essential oil. Beberapa fragrance maupun essential oil akan membuat liquid soap yang tadinya crystal clear akan menjadi keruh. Ada yang akan kembali bening dalam beberapa jam atau hari. Ini juga ada triknya supaya si sabun kembali menjadi bening. Soapmaker yang berpengalaman pasti tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini. Tapi jika Anda tidak keberatan dengan penampilan, seharusnya hal ini tidak menjadi masalah bagi Anda. 

Tanya: Saya beli liquid castile soap paste, tapi setelah dilute kok misah ya? seperti ada dua lapisan.
Jawab: Kemungkinan besar Anda mendapatkan pasta yang belum 'fully done'. Ini berbahaya, karena adonan yang misah setelah diluting menandakan sabun tersebut masih mengandung lye. Hubungi penjualnya dan sampaikan bahwa dia menjual pasta yang belum matang. Liquid soap paste berbentuk seperti soft butter (kurang lebih seperti mentega wijsman, atau lebih keras dari itu).

Tanya: Ada yang bilang, liquid soap itu pakai borax ya?
Jawab: Kalau soapmaker tersebut menggunakan metode yang ada di buku Catherine Failor ini, ada kemungkinan iya. Buku ini terbitan tahun 2000, masih menggunakan metode lama dalam membuat liquid soap. Metode tersebut memperhitungkan excess lye, sehingga butuh neutralizing agent berupa borax, atau pilihan lainnya: boric acid, citric acid. Soapmaker sekarang ini sudah tidak membutuhkan step neutralizing dalam membuat liquid soap. Jika jaman dulu bikin liquid soap butuh waktu belasan jam, soapmaker sekarang sudah bisa membuat liquid soap dalam waktu yang lebih singkat (ada metode terbaru mengenai hal ini). 

Tanya: Liquid soap kok busanya sedikit?
Jawab: Liquid soap alami memang busanya lebih sedikit dibanding liquid soap pabrikan, hal ini juga berlaku untuk sabun batangan homemade. Castile liquid yang berbahan 100% olive oil malah bisa dibilang tidak berbusa (busanya sangat sedikit), tapi sangat lembab bagi kulit. Jika ingin lebih banyak busa, saya sarankan pakai foaming net. 
Busa pada sabun pabrikan berasal dari surfcactant / synthetic detergent, synthetic detergent ini banyak jenisnya, SLS merupakan bahan surfactant yang paling banyak digunakan ada sabun pabrikan.

Tanya: Sabun home made ga bisa PH Balance?
Jawab: Jika Anda melihat sabun 'home made' yang mengklaim memiliki ph netral 5.5, baik sabun batang maupun cair, pada dasarnya mereka merupakan synthetic detergent. Baca dulu ingredientsnya. Jenis2 surfactant ada banyak, contoh: Cocamidopropyl Betaine, Sodium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfoacetate (SLSA) merupakan sebagian kecil jenis surfactant yang umum dipakai. 
Tidak ada sabun homemade natural yang bisa dibuat dengan ph netral. Titik. Sabun cair adalah produk alkali dan dimaksudkan untuk menjadi sebuah produk basa dengan pH biasanya di kisaran 9 - 10,2. Mencoba untuk menurunkan pH dibawah 9 atau bahkan sekitar 9 akan mengakibatkan sabun Anda tidak stabil. Menurunkan PH sabun Anda akan membuat sabun Anda berubah menjadi campuran air, glycerin, asam lemak, singkatnya: terpisah. Sabun cair yang benar akan berada di kisaran pH 9 - 10.2.


Sementara, ini dulu FAQ yang saya rangkum ya... ini adalah pertanyaan pertanyaan yang paling sering ditanyakan. Silahkan berikan komen jika ada yang kurang :)


Monday, October 5, 2015

All natural, chemical free product = Good for your skin?

Dari pertanyaan pertanyaan via email maupun chat yang masuk, saya lihat masih banyak nih yang clueless tentang produk produk chemical free bla bla bla itu. Ada seller yang membuat produk natural, homemade skincare yang menyatakan produknya bebas kimia, preservative dllsb dan memberukan statement bahwa inilah yang bagus untuk kulit, non chemical.

Disini saya -sekali lagi- mencoba meng-edukasi Anda sekalian. Saya bukan type orang yang anti chemical, tapi juga bukan orang yang sangat pro dan mendukung penggunaan bahan kimia pada produk produk home made. Saya netral. Bingung? hehehe.... 

Saya mendukung pemakaian chemical yang membuat produk home made menjadi lebih baik. Contoh nyata yang paling sering terjadi adalah preservative. Banyak produk home made yang ga pake preservative padahal produk mereka mengandung air. It's a big NO NO di dunia home made skincare. Water, hydrosol, aloe vera juice/water, semua mengandung air sehingga WAJIB menggunakan preservative.

Siapa disini yang anak kimia? murid saya ada yang lulusan kimia dan bio teknologi. Mereka tahu persis bahwa pemakaian preservative adalah WAJIB bagi produk yang mengandung air atau yang kemungkinan terkena air (contoh: body scrub).
Sebagai contoh, segelas air minum yang ditetesi bakteri tidak akan langsung berubah warna, bau dan rasa seketika itu juga, padahal air tersebut sudah mengandung bakteri, secara kasat mata, tetap bening. Air tersebut baru akan berubah bau, warna dan rasa SETELAH bakteri yang dimasukkan itu menjadi koloni. 

Salah satu produk yang banyak salah produksi adalah body spray. Urusan harus dikocok dulu sebelum digunakan, itu karena tidak pakai emulsifier. Tapi air yang ada di dalam body spray itu HARUS dan WAJIB pakai preservative. Anda mau menyemprotkan air yang mengandung yeast, bakteri atau berbagai bacam nasty things ke kulit Anda? saya sih tidak. Sekali lagi, preservative itu bukan hanya paraben, masih ada banyak pilihan lain. Yang perlu diperhatikan adalah broad spectrum atau tidaknya produk preservative tersebut. 
Seberapa efektif kah preservative yang digunakan?

Saya akan melanjutkan tulisan ini dengan tulisan tentang bagaimana membaca preservative dan bahan lainnya pada ingredient list ;)

Thursday, September 17, 2015

Oatmeal in Handmade Soap



Beberapa alasan kenapa banyak soapers (termasuk saya) suka menggunakan oatmeal di sabunnya adalah karena oatmeal pada sabun membantu untuk:

- moisturize
- exfoliate
- meringankan peradangan
- menenangkan gatal
- balance pH
- create a skin barrier
- slow the effects of aging

Berdasarkan hal hal tersebut, tidak heran jika banyak soapers yang senang menggunakan oatmeal pada sabun mereka. Nah, apa saja pilihan Anda untuk menggunakan oatmeal?

1. Ground oatmeal
Saya sering menggunakan ground oatmeal yang digiling medium, tidak terlalu kasar maupun halus, di tengah tengahnya. Ini menjaga supaya ada sedikit butiran yang berfungsi untuk exfoliating. Pada sabun akan terlihat seperti bintik2 oatmeal ;)

2. Colloidal oatmeal
Ini oatmeal yang sangat halus sehingga larut pada sabun. Anda mendapatkan semua benefitnya tanpa efek exfoliating. Beberapa orang yang kulitnya sensitif suka merasa medium ground oatmeal masih terlalu kasar, sehingga colloidal oatmeal menjadi pilihan terbaik untuk mereka. Produksi colloidal oatmeal melibatkan banyak hal, Berdasarkan situs ini, “Colloidal oats are first ground, boiled, and steamed to keep its natural oils fresh. Oat grains are further milled into a fine powder.”. Sebagai hasilnya, colloidal oatmeal merupakan pilihan yang lebih mahal dibanding pilihan oatmeal lainnya dalam postingan ini. Colloidal oatmeal memiliki banyak kelebihan sehingga pantas untuk harga/biayanya. 

3. Oat Flour (bubuk oatmeal)
Pada dasarnya ini merupakan versi home made colloidal oatmeal, tapi bukan colloidal oatmeal yang sesungguhnya. Disini, ground oatmeal digiling sampai halus dan disaring lagi untuk mendapatkan bubuk yang paling halus dari oatmeal.

4. Oat milk
Banyak soapers memilih oatmilk sebagai solusi untuk mendapatkan semua manfaat oatmeal dengan biaya rendah. Anda bisa membuat oat milk sendiri di rumah. 

Salam soapers ^__^





Saturday, August 29, 2015

Today's Topic: Plant Extract

Beberapa waktu yang lalu, seorang customer menanyakan tentang extract ke saya. Dia melihat statement pada produk sabun cair yang dibuat oleh brand home made soap terkenal di Indonesia. Pada statement tersebut katanya sabun cair ini dibuat dengan menggunakan green tea yang sangat banyak, bukan cuma extract yang cuma 1-2%. 

Customer saya menanyakan apakah statement ini benar?

Saya jelaskan, kenapa pemakaian extract dalam dunia kosmetik amat sangat sedikit, dan kenapa di produk skincare lebih disarankan menggunakan extract. 

Dibutuhkan berkilo kilo bahan tersebut untuk menghasilkan 1 ons extract, karena itulah extract menjadi mahal, dan penggunaannya sangat sedikit. Tidak berbeda jauh dengan essential oil. Tahukah kamu, dierlukan lebih dari 100 kilo bunga mawar untuk menghasilkan 7Gr rose essential oil?  Itu sebabnya rose essential oil sangat mahal harganya.
Pernah mencoba membuat pumpkin powder? 1 buah labu dengan berat 1.3Kg jika dibuat dehidrated pumpkin dan dijadikan bubuk hanya menghasilkan kurang dari 1 ons pumpkin powder. Sampai disini jelas ya analoginya?

Kembali ke statement produsen di atas, saya tekankan, 10 kg bahan tersebut tidak sebanding manfaat maupun benefitnya dengan 1-2% extract. Selain itu, ingat bahwa bahan mentah merupakan tempat bersarang dan bertumbuhnya jamur dan bakteri. Silahkan googling sendiri, apakah ada home made skin care product (bukan bar soap) yg disarankan menggunakan bahan mentah (pake jus pepaya misalnya). Sangat disayangkan jika ada merk ternama yang memberikan statement yang membodohi customer tanpa melakukan riset terlebih dahulu.

Ini saya lampirkan prosedur pembuatan extract, dan link tentang how to nya. 






Sekian ocehan saya hari ini ;)

Wednesday, August 19, 2015

Natural vs Organic

Dengan begitu banyak istilah yang digunakan dalam memasarkan produk kecantikan, seringkali sulit untuk membedakan apa yang Anda pikir Anda beli dibandingkan apa yang sesungguhnya Anda dapatkan. "Natural" dan "Organik" sering digunakan untuk mempromosikan kemurnian banyak produk kecantikan - terutama sabun - tetapi dua istilah merupakan dua hal yang sangat berbeda. Salah satunya adalah istilah yang diatur secara hukum, dan yang lainnya jauh lebih bebas. Baca terus untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan penting antara dua label tersebut.


ORGANIK
 'organik' adalah istilah diatur secara ketat oleh Departemen Pertanian AS (Atau di eropa: Ecocert). Menurut situs USDA, "kegiatan organik harus menunjukkan bahwa mereka melindungi sumber daya alam, melestarikan keanekaragaman hayati, dan hanya menggunakan zat yang di approve".

Dalam rangka untuk diakui sebagai produk 'organik', fasilitas atau kegiatan pertanian/peternakan harus memenuhi standar ketat yang ditetapkan dan disetujui oleh National Organic Program (NOP). NOP mengatur pembuatan, produksi, penanganan, pelabelan dan penegakan semua produk organik bersertifikat USDA. Singkatnya, produk berlabel 'organik' tidak didapatkan begitu saja dengan mudah! Apa pun yang berlabel organik harus melalui proses regulasi yang ketat, dan Anda dapat  yakin bahwa apa yang Anda beli tidak mengandung bahan sintetis atau pestisida.

"Secara keseluruhan, jika Anda membuat sebuah produk dan ingin mengklaim bahwa produk Anda atau bahan-bahan produk Anda organik, produk akhir Anda perlu disertifikasi. Jika Anda tidak bersertifikat, Anda tidak harus membuat klaim organik atau menggunakan label organik USDA dimanapun pada produk Anda"

USDA dan Ecocert merupakan lembaga sertifikasi organik yang banyak dikenal luas, masih banyak serifikasi organik lain yang ridak umum disini.


NATURAL
Di sisi lain, banyak soapers menggunakan istilah 'natural' untuk menunjukkan bahwa sabun atau produk mereka dibuat tanpa bahan sintetis. Kata 'alami' merupakan istilah umum yang dapat diterapkan untuk hampir apa pun yang berasal dari alam. Tidak seperti 'organik,' tidak ada rintangan hukum ketika menggunakan istilah 'alami'.


Jadi? Apa artinya? hmm... soapmaker yang berpendidikan tidak akan menyebut produk mereka organic. Buyer yang pintar tidak akan percaya begitu saja produk tersebut merupakan produk organik hanya karena ada tulisan/kata "Organik". 
Masalah utama di Indonesia, bahan organic untuk skincare (termasuk sabun) amat sangat sulit didapat (kalau tidak bisa saya sebut langka). Satu satunya cara untuk mendapatkan bahan tersebut adalah dengan membelinya dari luar negri. 
Jadi, jika Anda menemukan sabun "organik" yang dihargai dibawah Rp. 50.000,- , waspadalah. Bisa jadi Anda membeli produk dari soapmaker yang ilmunya "pas pasan". :p


Source: Soap Queen
               USDA
               Ecocert


Contoh produk dengan label USDA organik, lihat lingkaran di kanan bawah:



Beberapa logo sertifikasi organik internasional lainnya:



Awal Tahun 2025

Halo semuanya ^__^ Sudah sekian tahun tidak menulis blog, karena alasan kesibukan, dan sering bolak balik keluar kota menemani orangtua saya...